Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Anak Berbuat Salah ? Ketahui Cara Menegur Yang Diinginkan oleh Anak (Didik)

Ketahui Cara Menegur Yang Diinginkan oleh Anak (Didik)
Pic : duniabelajaranak.id
Keseharian sebagai seorang pendidik di salahsatu sekolah di pelosok daerah seringkali menemukan hal-hal baru yang berkaitan dengan perilaku anak dan pola parenting yang dilakukan oleh kalangan orangtua di rumah maupun yang diperlihatkan oleh sesama rekan pendidik di sekolah terhadap anak didiknya.

Setiap harinya banyak hal yang ditemukan yang datangnya dari perilaku anak yang begitu beragam. Nah kebetulan anak yang berada di sekolah itu adalah anak yang memiliki rentang usia 12-15 tahun yang sedang memasuki usia remaja, puber gitu. Rasanya tidak akan henti-hentinya memberikan pendidikan dan pelajaran bagi saya sebagai gurunya sendiri. Misalnya aja nih ada pendidikan kesabaran ketika menemukan anak yang memiliki sifat keras atau bahkan sebaliknya ketika berhadapan dengan kondisi anak yang pendiam dan pasif. Anehnya itu rasanya berhadapan dengan anak yang memiliki karakter pasif memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibanding anak yang aktif tapi rada-rada nakal, ya mungkin itu karena menghadapi anak pasif membutuhkan usaha yang lebih banyak untuk membangkitkan motivasi dan semangat belajarnya. Hadeuh!
Di lain waktu, ragam sifat anak hasil dari kolaborasi sistem pendidikan yang didapatkan oleh anak di dalam keluarga dan lingkungan tempatnya biasa bersosialisasi maka akan terlihat bentuk dasar dari sifat mereka. Misalnya tidak sedikit ada anak yang "matang sebelum waktunya" karena memang memiliki lingkungan bermain yang usia teman bersosialisasinya jauh lebih tua dibanding anak itu sendiri atau ditemukan anak dengan karakter "teunggar kalongeun" (istilah Sunda untuk anak yang sering banyak melamun dan slow respond) sebab terlalu banyak dimarahi, dibentak dan mendapat perlakuan kasar dalam keseharian di keluarga.

Sangat disayangkan memang, ketika anak yang beranjak remaja kemudian berubah menjadi pendiam hanya karena sistem pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat yang keliru hanya karena ego dari orangtua mereka sendiri. Orangtua dalam hal ini dapat berarti ayah dan ibunya, keluarga yang lebih tua, guru atau pun orang-orang yang lebih dewasa di lingkungan masyarakat.

Tidak sedikit orangtua yang "main hajar" dengan anak mereka dengan pola fikir pendek "ah yang penting anak diam dan menurut". Mereka tidak pernah berfikir bahwa dengan tindak yang dominan dan refresif dalam pola asuh seperti itu tidak akan pernah mendapatkan hasil yang baik. Ya apalagi anak tercipta dengan keunikan karakternya masing-masing.
Belum lagi dengan kenangan dan trauma dari orangtua dan guru itu sendiri yang mungkin saja memiliki pewarisan sifat arogan dan kekerasan dari orangtuanya terdahulu. Atau mungkin bawaan dari akumulasi masalah personal yang dimiliki oleh masing-masing semisal masalah rumah tangga atau masalah dalam pekerjaan yang tidak jarang akan terbawa dalam pusaran emosi yang tidak dapat dikendalikan ketika menemukan masalah anak dan menjadikan anak sebagai pelampiasan amarah. Jelas saja kebanyakan anak hanya dapat membisu ketika dijadikan ajang "meupeus keuyang" (istilah Sunda untuk sikap dan tindakan melampiaskan kejengkelan atau kemarahan kepada yang tidak berdosa)

Apakah itu tidak akan memberikan dampak panjang bagi anak? Tentu sangat memberikan dampak psikologis yang berat kepada anak ketika setiap hari mendapatkan perlakuan yang tidak normal dari orang-orang tua mereka yang seharusnya lebih dapat mengerti dengan kondisi perkembangan mereka yang bahkan anak sendiri sering bingung dengan apa yang harus dilakukan ketika menjalani hari-hari dalam posisi yang serba salah. Dikatakan serbasalah karena usia remaja adalah usia yang galau, dibilang anak-anak bukan dibilang dewasa juga bukan.
 
Setidaknya para pendamping anak (orangtua, masyarakat dan guru) harus menyadari beberapa akibat dari sikap dan perlakuan arogan/kasar ketika memperlakukan anak yang melakukan kesalahan. Diantaranya adalah anak akan menjadi minder dan takut mencoba hal-hal baru, tumbuh menjadi pribadi yang peragu dan tidak percaya diri, memiliki sifat pemarah dan egois, cenderung memiliki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasehat orangtua,  pribadi yang tertutup, apatis dan tidak peduli terhadap lingkungan.

Tentunya dengan akibat dari sikap mendidik yang kasar seperti di atas bukanlah tujuan dari orangtua dan guru. Itu sangat berbanding terbalik dengan tujuan mendidik yang pada intinya adalah bahwa anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan kemampuannya untuk menjadi seseorang yang mandiri dan dapat menjadi insan produktif bagi dirinya sendiri, keluarga dan lingkungannya.

Mereka butuh bimbingan dan pengarahan agar tetap pada prinsip-prinsip yang sesuai dengan etika berprilaku yang baik dan sesuai dengan norma dalam keluarga dan masyarakat. 

Iseng-iseng berhadiah, eh :-D seringkali saya membuat pertanyaan sederhana yang diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan perbaikan dalam cara mendidik anak. Hasilnya sering dijadikan bahan evaluasi dan motivasi bagi saya sendiri sebagai pembimbing anak di sekolah maupun orangtua di dalam keluarga yang saat ini memiliki anak berusia 4 tahun.

Kali ini dalam sesi "curhat" bersama anak di kelas ada pertanyaan yang saya lontarkan kepada mereka terkait dengan sikap guru dan orangtua ketika menegur yang diinginkan oleh anak-anak ketika mereka melakukan kesalahan, ini dia jawaban mereka (jawabannya benar-benar asli tanpa edittttt...):
1. "Saya suka ditegur dengan cara yang lembut di belakang teman..."
2. "Saya suka ditegur dengan cara yang lembut tidak dengan cara yang keras, dipanggil dulu lalu dibicarakan dengan baik..."
3. "Bila saya punya kesalahan, saya suka ditegur itu dipanggil terlebih dahulu dan berbicara dengan lemah lembut..."
4. "Saya suka ditegur dengan baik dan di belakang teman karena kalau di depan teman itu malu dan ditegur dengan marah saya tidak suka..."
5. "Saya suka ditegur di belakang teman dan saya suka ditegur dengan kata yang baik..."
6. "Saya suka ditegur di belakang teman dengan cara berbahasa lembut..."
7. "Saya suka ditegur sama cara yang lembut dan di belakang teman, karena kalau di depan teman rasanya itu malu..."
8. "Saya suka ditegur dengan cara lembut dan di belakang teman-teman karena itu akan membuat saya lebih baik..."
9. "Saya suka ditegur dengan cara dipanggil di belakang teman yang lembut..."
10. "Saya suka ditegur dengan cara lembut..."
11. "Saya suka ditegur dengan cara tidak dimarahi dan dipanggil..."
12. "Saya suka ditegur dengan cara dipanggil..."
13. "Saya suka ditegur dengan ramah lembut karena saya lebih suka..."
14. "Saya suka ditegur dengan lembut karena saya tidak mau dipandang jelek..."
15. "Saya suka ditegur dengan cara dipanggil tidak di depan teman-teman dan bicaranya lemah lembut..."
16. "Saya suka ditegur dengan cara dipanggil lalu dibicarakan dengan baik-baik karena membuat kita jadi semangat tidak mengerjakan hal yang tidak baik lagi..."
17. "Saya suka ditegur dengan cara lembut karena saya malu kalau ditegur dihadapan teman-teman saya..."
18. "Saya suka ditegur lembut di belakang teman..."
19. "Saya suka ditegur dengan cara lembut..."
20. "Saya suka ditegur baik-baik..."
21. "Saya suka ditegur dengan cara baik-baik karena jika baik-baik saya selalu cepat sadar apa yang saya lakukan itu ga baik.."
Daaan terbukti! Dari semua jawaban yang merupakan curahan hati anak di atas, tidak ada satupun anak yang menuliskan suka dengan cara teguran yang kasar dan dilakukan di depan teman-temannya dan banyak orang. Semua menginginkan tindakan teguran yang baik dan lembut bahkan untuk anak yang menurut saya sendiri adalah anak yang memiliki karakter keras dan terlihat sering memberontak.

Karena intinya mereka adalah anak yang mendambakan sosok orangtua dan guru yang mengerti bahwa menegur di depan banyak orang adalah tindakan mempermalukan. Alih-alih dapat membuat mereka lebih baik, maka seringkali menjadikan anak lebih memberontak dan tidak memiliki rasa hormat kepada orang yang seringkali memperlakukannya semena-mena.
Share:

Hadis Tentang Memberi Nasihat

Menasihati dan menegur yang baik adalah menasihati dengan cara yang dapat diterima dengan hati yang tenang dan lapang dada oleh orang yang melakukan kesalahan. Tidak membuatnya tersinggung apalagi menimbulkan dendam di hati. Menasehati didepan umum hakikatnya adalah cenderung sulit diterima oleh hati orang yang dinasihati.
Berikut adalah beberapa hadist yang memuat tentang menegur dan menasihati yang baik.
1. Imam Asy-Syafi’i  rahimahullah berkata:
تعمدني بنصحك في انفرادي** وجنبْني النصيحة في الجماعهْ
فإن النصح بين الناس نوع** من التوبيخ لا أرضى استماعهْ
وإن خالفتني وعصيت قولي** فلا تجزعْ إذا لم تُعْطَ طاعهْ
Berilah nasihat kepadaku ketika aku sendiri,
Jauhilah memberikan nasihat di tengah-tengah keramaian
Sesungguhnya nasihat di tengah-tengah manusia itu termasuk sesuatu
Pelecehan yang aku tidak suka mendengarkannya
Jika engkau menyelisihi dan menolak saranku
Maka janganlah engkau marah jika kata-katamu tidak aku turuti


Baca Juga: Cara Menegur Yang Diinginkan Oleh Anak

2. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Kewajiban seorang muslim atas muslim yang lain ada enam.” Lalu ada yang bertanya,“Apa itu ya Rasulullah.” Maka beliau menjawab, “Apabila kamu bertemu dengannya maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila dia mengundangmu maka penuhilah undangannya, apabila dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat kepadanya, apabila dia bersin lalu memuji Allah maka doakanlah dia -dengan bacaan yarhamukallah-, apabila dia sakit maka jenguklah dia, dan apabila dia meninggal maka iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim)

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَسِّرُوْا وَلاَ تُعَسِّرُوْا، وَبَشِّرُوْا وَلاَ تُنَفِّرُوْا
“Mudahkanlah dan jangan kalian persulit, berilah kabar gembira dan janganlah kalian membuat orang lari” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka dengan melihat beberapa hadis diatas ada baiknya memperhatikan adab dalam nasehat-menasehati:
#1 Ikhlas dalam menasehati, sehingga bukan karena ingin menunjukkan kita hebat dan berilmu, bisa menasehati orang lain dan dilihat oleh orang banyak

#2 Jika ada yang meminta nasehat kepada kita maka sunnahnya kita memberika nasehat karena itu adalah hak saudara muslim
#3 Tujuan kita menasehati adalah menginginkan kebaikan pada saudaranya jangan malah membuat lari menjauh karena pengertian nasehat adalah menginginkan kebaikan
#4 Perhatikan kedudukan kita apakah layak memberikan nasehat
#5 Perhatikan juga cara kita menasehati, hukum asalnya adalah lemah lembut. Bisa jadi sebenarnya yang dinasehati menerima nasehat tersebut, tetap ia “gengsi” menerima kebenaran dari kita karena cara kita yang tidak benar ketika menyampaikan
#6 Rahasiakan nasehat kita
Jangan mengumbar ke mana-mana bahwa ia telah menasehati di fulan.
Share:

Ayo! Libatkan Alam Untuk Pendidikan Anak

Sebagai ayah dari satu putri cantik yang saat ini telah menginjak usia 4 tahun (cieee bangga sekali inih :-D), merupakan kebahagiaan ketika melihat pesatnya perkembangan si buah hati. Dengan diuntungkan oleh tempat kerja yang dekat dan bisa dicapai dengan waktu yang singkat sehingga setiap hari dapat ikut membantu ibunya merawat buah hati kami. Demikian juga bagi si buah hati, kedekatan antara ibu dan ayah terasa seimbang karena sosok keduanya hadir dalam kesehariannya.

Anak saya terbilang aktif, meskipun memang tidak tergolong hiperaktif karena jika melihat dari ciri-cirinya keaktifannya yang normal, memiliki jam tidur siang dan malam yang baik dan teratur. Berbeda dengan beberapa anak yang dijumpai memiliki kehiperaktifan, terlihat susah untuk diam, sehingga orangtua atau pengasuhnya seringkali kewalahan dalam penanganannya.
Dengan kehidupan desa yang cenderung masih serba alami, menjadikan putri kami sebagai anak yang dibesarkan dekat dengan alam. Kesehariannya kami usahakan selalu libatkan alam untuk menjadi sumber belajar. Baik dari segi motorik maupun pengetahuannya, tentu dengan kapasitas yang sesuai dengan kemampuan mengolah informasi yang dimiliki oleh anak seusianya.Kehidupan sehari-hari si buah hati yang sebagian besarnya dihabiskan di luar ruangan menjadikannya lebih paham tentang manfaat barang-barang sekitar yang bisa dan tidak bisa dijadikan alat dan bahan bermain. Misalnya untuk tanaman-tanaman yang beracun dan berbahaya, dia mulai dapat membedakannya sehingga tahu untuk tidak menyentuh atau memetiknya. Atau untuk penggunaan alat-alat atau benda yang tajam dia bisa memilih mana yang menurutnya aman digunakan, meskipun memang memerlukan bimbingan dan perhatian oleh orangtuanya secara perlahan diikuti dengan penjelasan.
Angon kambing? Ayo!
Hal-hal sederhana seperti disebutkan diatas, maka dalam perjalanan kesehariannya si kecil mendapatkan rangsangan dan stimulasi yang luar biasa hebatnya. Ini terlihat dari begitu banyaknya pertanyaan yang dilontarkan. Hal yang menurut kita terasa lucu padahal memang begitulah pola dan cara si kecil mengungkapkan keingintahuannya.
“Ini apa yah?”
“Itu apa yah?”
“Ini kenapa””
“Itu kenapa seperti itu?”
Terkadang yang paling memalukan bagi diri saya sendiri adalah banyak pertanyaan-pertanyaan yang sederhana akan tetapi terasa sulit untuk menjawabnya dengan penjelasan yang pas buat si kecil.

Apalagi dengan perkembangan si kecil mulai mengerti tentang keindahan alam. Melihat awan yang tipis saja di langit seringkali membuatnya bersorak seraya berteriak:

“Waaaaah, ada awan Ayah! Lihat! Baguuus! Ai mau ke awan! Hayu Ayah!”.

Sebetulnya, kita pun memiliki perasaan wah terhadap alam yang indah, meski mungkin dengan iklim ekspresi yang berbeda. Apresiasi terhadap keindahan alam yang kita miliki sering kali memang tidak sebesar apresiasi yang diperlihatkan oleh anak terhadap keindahan alam negerinya. Lihat saja betapa mudahnya kita mengacuhkan keindahan alam karena kesibukan kita yang mengalihkan fokus terhadap alam sekitar.
Tugas kita adalah memperkenalkan alam kepada si kecil dengan tujuan agar kelak dapat menjaga, menghargai dan memanfaatkan kebaikan alam tanpa harus merusaknya. Dengan hal-hal sederhana yang tidak memerlukan biaya mahal, bahkan mungkin tidak memerlukan biaya sama sekali.

Misalnya saja untuk beberapa waktu jika cuaca baik seringkali putri saya ajak untuk mendirikan semacam tenda kecil di pesawahan, senangnya bukan main. Segala macam alat dibawa yang menurutnya akan berguna untuk digunakan.
Camping dengan si kecil, sederhana dengan fasilitas seadanya
Dengan bermain kemah seperti ini saja saya bisa mengajaknya belajar lebih jauh dari alam. Menyenangkan!. 

Bermain jerami pasca panen di pesawahan.
Si buah hati tidak hanya mengenal alam hanya lewat buku bacaan atau pun dari layar kaca saja, tetapi langsung dapat dia perhatikan dari dekat dan mungkin untuk sebagian hal dapat ia sentuh. Ia tak hanya akan senang mendengar apa yang Anda katakan atau jelaskan. Tapi, belajar mencintai alam sejak dini bersama Anda akan menjadi kenangan yang tak terlupakan sampai ia besar kelak
Beruntungnya di belakang rumah tersedia tempat bermain seperti ini...
Sambil bermain, perlihatkan padanya hewan-hewan yang tinggal di tempat-tempat tersebut, seperti serangga dan tumbuhan di sawah. Banyak hal bisa dijelaskan tentang itu semua. Membuat wawasannya tentang alam bertambah seiring dengan tercipta kecintaannya terhadap alam sebagai investasi kelestarian alam di masa yang akan datang. Mencintainya dengan menjaga kebersihan. Di mana pun ia berada, mintalah agar ia tidak membuang sampah sembarangan di tempat-tempat yang ia datangi. Itu adalah pelajaran yang lebih penting sebagai awal untuk mengajarkan etika dalam kehidupannya di masa yang akan datang.
Share:

Kebaikan Amang Sopir Yang Bikin Anak Suka Angkutan Umum

Rumah terasa sepi hari ini tanpa adanya si kecil yang baru menginjak usia 4 tahun berjalan. Bagaimana tidak sepi karena biasanya rumah selalu hangat dengan suara mungilnya memanggil-manggil meminta tolong mengambil mainannya yang masuk ke kolong kursi atau merengek-rengek meminta saya untuk untuk menjadi kuda si pelari kencang lalu dia naik ke atas punggung dan meminta berputar-putar menirukan kuda kesukaan yang sering dilihat di film animasi favoritnya.

Maklum, dengan usianya sekarang semakin aktif saja anakku bergerak, saya mulai akrab dengan pertanyaan "ini apa? Ini kenapa begini? Itu kenapa begitu?" dan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar indah namun terkadang saya bingung untuk menjelaskan jawaban atas sesuatu yang ditanyakan tentunya agar dapat dicerna dengan baik oleh pemikirannya yang masih sangat belia.

Sejak tadi pagi si kecil keukeuh maksa ingin ikut ibu, abah dan uminya untuk pergi ke rumah keluarga yang letaknya lumayan jauh sehingga harus menggunakan kendaraan untuk pergi ke sana dan waktu perjalanannya lumayan lama.

Sempat khawatir dengan kondisinya yang baru sembuh dari sakit demam dua hari kemarin. Namun karena melihatnya yang sudah terlihat sehat serta keinginannya yang sangat besar untuk ikut akhirnya saya mengijinkan ibunya untuk pergi ke rumah saudara yang akan menyelenggarakan acara pesta pernikahan di daerah Kabupaten Bandung.

Saya tahu alasan kenapa si kecil keukeuh memaksa untuk ikut ke abah dan uminya. Tiada lain karena anak saya sangat suka kalau dibawa untuk menaiki kendaraan angkutan publik apalagi kalau angkutannya itu jenisnya bus dan kereta api, (sampai saat ini dia belum kesampaian naik kereta api sih, baru sampai ke kunjungan stasiun terdekat aja). Mungkin salahsatunya karena efek dari film yang sering ditonton menampilkan tokoh-tokoh bus yang lucu dan menyenangkan.

Ada yang unik dari angkutan antar daerah di tempat tinggal saya. Ya meskipun tidak sebanyak di perkotaan namun 1-2 tahun belakangan ini muncul moda transportasi baru yang representatif sesuai dengan kebutuhan masyarakat disini. Mobil sejenis elf muncul dengan rute baru (Pagelaran-Ciwidey) yang jalurnya melewati tempat tinggal kami selanjutnya mengantarkan penumpang melintasi perbatasan Cianjur Bandung melalui jalur alternatif. Mobil jenis ini memang menjadi andalan karena terkenal tangguh untuk medan jalanan yang kurang bersahabat sekalipun. Kalau ada yang pernah berkunjung atau melewati tujuan wisata Curug Citambur pasti tahu dan pernah merasakan ekstremnya tanjakan leumah neundeut, seru kan? Haha

Lantas tadi bilang ada yang unik, apa ya?

Saya katakan unik karena angkutan elf ini menjadi kendaraan yang banyak diidolakan oleh anak-anak dan sangat dirindukan kedatangannya. Pernah beberapa kali melihat segerombolan anak-anak usia sekolah dasar begitu antusias berteriak-teriak: "Tayooooo! Tayooooo!".
Mereka begitu berbahagia ketika sang sopir memberhentikan kendaraannya lantas kemudian membunyikan klaksonnya disambut dengan riang gembira oleh anak-anak tadi.

Tidak sampai disana, Mang Sopir terlihat mengambil sesuatu dari karung putih besar yang ternyata itu adalah boneka Tayo, si tokoh film kartun animasi yang lagi trend di kalangan anak-anak. Lantas kemudian membagi-bagikannya kepada anak-anak tersebut.
Ini dia!
Tidak hanya untuk anak-anak yang ditemui di perjalanan, namun tentu setiap penumpang yang kebetulan membawa anak kecil pasti akan mendapatkan satu boneka lucu itu (selama persediaan ada).


Karena pemilik elf itu begitu peduli terhadap apa yang anak-anak setempat sukai, sampai-sampai memodifikasi warna dan rupa kendaraan tersebut menyerupai Tayo.

Tak heran karena hal sesederhana ini membuat angkutan umum seperti ini diminati anak-anak dan juga para orangtua (karena bikin anak senang :-) ). Mereka semakin nyaman untuk menggunakan angkutan umum karena keunikan yang ada dalam angkutan yang membuat anak-anak sedikit banyaknya terhibur. Belum lagi hal ini secara tidak langsung membuat dalam fikiran anak-anak tertanam kebiasaan untuk menggunakan angkutan umum yang lebih efisien ketimbang kendaraan pribadi. Yang kalau di kota besar penggunaan angkutan pribadi menjadi salahsatu penyebab terbesar kemacetan.

Terimakasih buat Mang Sopir yang inovatif, semoga dapat ditiru oleh para penyedia angkutan lainnya di jalur-jalur yang lain.

Next, saya akan membahas inovasi lainnya yang digagas oleh salahsatu innovator muda di Pasirkuda.
Share:

Tentang Saya

Git Agusti

Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Blogger Cianjur | Buzzer | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Random Writer | ...Read More

Ikuti Saya Melalui Email

Label

Jalan-Jalan (14) opini (12) Stories (11) edukasi (11) Teknologi (6) Report (2)

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Komentar Terbaru

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"