Partisipasi Politik Masyarakat Muda Masa Kini, Pentingkah ?

Partisipasi Politik Masyarakat Masa Kini, Pentingkah ?
Suatu waktu di markas kopi kami, menikmati segelas kopi hitam panas ditemani goreng pisang di warung sederhana di pinggir jalanan kampung. Kira-kira empat lima orang dewasa usia seperempat abad setidaknya serentak menikmati sajian yang sama dalam cuaca yang cukup dingin.

Disana, di bangku kayu panjang yang menjadi saksi bisu keberagaman pemikiran kaum muda di perkampungan, tapi percayalah, kami masih di wilayah Indonesia, bahkan tak perlu naik pesawat terbang atau kapal menyeberangi lautan untuk sampai ke daerah ibukota negara kami, Jakarta (yang katanya kota yang tak pernah tidur).

Apapun kami bicarakan disana, sekedar memancing kehangatan suasana agar lebih hangat. Pekerjaan, hobi, asmara bahkan kekonyolan-kekonyolan sepele yang terkadang membuat kami terbahak lama. Terbahak-bahak melupakan kesusahpayahan dalam sulitnya mencari sekedar pengisi piring untuk perut sendiri, apalagi untuk yang sudah memiliki tanggungjawab di punggung, menggendong di depan dan belakang.

Terkadang mereka membahas politik, itu kadang-kadang ya, karena menurut mereka kata "politik" itu kotor. Semacam zona merah yang berisi nafsu merengkuh untuk menggapai kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Sepak terjang yang hanya mengenal musuh yang abadi, kawan dan sahabat hanya dalam hitungan kepentingan masing-masing, selama dalam posisi bisa memberikan keuntungan akan mereka pakaikan topeng-topeng kebaikan, setelahnya, habis manis sepah dibuang.

Padahal kalau ditinjau secara sepintas saja, politik adalah seni mendapatkan kekuasaan secara konstitusional dengan tujuan untuk kebaikan bersama. Mengelola bangsa dan negara demi kemajuan masa depan yang cemerlang bagi semua kalangan.

Pemikiran-pemikiran lugu keapatisan berpolitik rupanya tak lepas dari beberapa faktor negatif yang didapatkan dari pemandangan keseharian yang berasal dari media pemberitaan yang acapkali menyajikan kebobrokan birokrasi di hampir semua sektor pengelolaan negara, dan mungkin juga dari apa yang mereka saksikan dan rasakan setiap hari.
Berpartisipasi dalam langkah persuasif agar warga berusia produktif di daerah pun mau memilih

Maklumlah, pendidikan politik memang tak pernah secara langsung didapatkan dari  di bangku sekolah, apalagi mayoritas masyarakat di pedesaan memiliki pendidikan hanya sampai jenjang dasar saja. Pendidikan politik hanya didapatkan dari apa yang didengar dan dilihat, maka dari sinilah paradigma politik tumbuh menjadi pemahaman masing-masing individu. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa usia muda merupakan masa perkembangan secara biologis dan psikologis, jadi pengaruh konsumsi informasi menjadi salahsatu pembentuk pemahaman termasuk dalam hal politik.

Padahal jika dikaji secara mendasar, kembali pada pemahaman tentang politik itu sendiri, hampir semua sendi kehidupan memiliki hubungan dengan kondisi perpolitikan yang dinamis sehingga akan saling mempengaruhi satu sama lain. Terciptanya keseimbangan kehidupan karena adanya harmonisasi pengamalan berpolitik yang baik dan sehat.

Kalau saja mereka mau membayangkan, bahwa sikap politik erat kaitannya dengan kehidupan. Bagaimana keadaan politik dapat menjadikan pisau bermata dua yang satu sisi dapat membuat masyarakat damai dan sejahtera, di sisi lain dapat menjadi mata pisau yang haus akan darah rakyat, mengorbankan rakyat kecil demi kelompok yang berkepentingan.
Berperan sebagai Pengawas Desa sebagai kepanjangan tangan Bawaslu, menjamin agar semua masyarakat
terutama pemilih muda untuk dapat memiliki hak pilih dan menggunakannya

Mereka harusnya dapat mengetahui, bahwa bagaimana pengambilan keputusan-keputusan oleh para pemangku kebijakan yang notabene adalah hasil pilihan rakyat melalui Pemilihan Umum yang diselenggarakan 5 tahunan dapat berefek sangat dahsyat hingga ke meja makan. Perubahan dalam suatu kebijakan politik di suatu negara atau wilayah akan dapat menimbulkan dampak besar pada sektor keuangan, bisnis dan perekonomian negara atau wilayah tersebut. Resiko politik umumnya berkaitan erat dengan pemerintahan serta situasi politik dan keamanan di suatu negara atau wilayah. Tentunya secara tidak langsung berimbas pula pada bagian-bagian terkecil yang pada akhirnya dirasakan oleh warga masyarakat sendiri.

Maka dari itulah, apatisme berpolitik oleh para generasi muda produktif memiliki peranan negatif yang cukup signifikan untuk menghambat kemajuan dalam suatu negara. Jika saja generasi yang berstatus sebagai pemilih pemula selalu bersikap masa bodoh dengan peran aktifnya dalam memanfaatkan hak politiknya sungguh disayangkan mengingat dilihat dari aspek demografis sendiri Indonesia saat ini populasi penduduknya didominasi oleh usia menjelang dewasa dan produktif lebih dari 60%.

Generasi millenial memiliki aspirasi yang berbeda dengan aspirasi masyarakat pada umumnya. Dalam makna positif aspirasi yang berbeda ini disebut dengan semangat perubahan yang kreatif dan inovatif. Sehingga seharusnya berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan pribadi-pribadi kritis dalam segala aspek pembangunan nasional, contohnya dengan cara membangkitkan sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan dari sutu pemerintahan, juga dapat berperan aktif sebagai pembawa perubahan dengan cara demokrasi aktif agar menjadi masyarakat yang lebih inovatif sehingga membawa perubahan yang lebih besar dan memberi manfaat yang banyak bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Berbicara hak pilih, kurang lebih akan ada sekitar 196,5 juta orang yang dipastikan memiliki hak memilih pada Pemilihan Legislatif dan Presiden 2019 nanti. Setiap hak pilih adalah individu dari Sabang sampai Merauke yang memiliki beragam impian dan cita-cita untuk bangsa dan negaranya. Baik dimulai dari cita-cita untuk dirinya sendiri, keluarga, lingkungan kemudian bangsa dan negaranya secara umum.

Setiap keinginan harus diwujudkan dengan penyampaian aspirasi yang sudah diwadahi oleh konstitusi dengan diadakannya Pemilu. Setiap warga negara yang memiliki aspirasi akan difasilitasi dan dijamin hak pilihnya oleh negara untuk kemudian mencari sosok-sosok yang menurut pribadinya masing-masing akan dapat dan mampu mewakili mereka untuk dapat membantu mewujudkan cita-citanya dalam mewujudkan impiannya.
Nih, ikut nyoblos kok waktu Pilkada kemaren. Sebagai bentuk perwujudan agar di masa depan aspirasi dapat menjadi kenyataan
Dengan terpilihnya para wakil rakyat yang sesuai dengan cita-cita mereka, maka akan semakin mudah pula untuk mewujudkan cita-cita bersama karena wakil rakyat terpilih akan mewakili mereka untuk menyuarakan pesan-pesan dari rakyat.

Begitu pula dengan terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden sebagai pemegang kewenangan dalam pengambilan kebijakan-kebijakan negara dalam skala besar. Kebijakan yang tentunya akan membawa perubahan dalam tatanan bangsa baik dalam bidang ekonomi, politik, keamanan dan kedaulatan negara.

Maka jika ada yang masih menganggap bahwa berpolitik adalah kotor, marilah mempersiapkan diri untuk ikut turun tangan berpartisipasi aktif merubah kondisi ke arah yang lebih baik. Dalam skala kecil, berikan hak pilih untuk mereka yang dirasa akan mewakili kita menyampaikan aspirasi demi kemajuan bangsa. Berikan hak pilih kita untuk mereka yang dirasa pantas memimpin bangsa dan negara ini agar menjadi bangsa yang kuat dan berdaulat, baik secara wilayah, ideologi dan ekonomi agar disegani oleh negara-negara lain.

Generasi muda jangan hanya bisa memberikan kritik jika bisa berbuat lebih dari itu, karena mereka menua saat ini menyesal dan ingin kembali ke usia mudanya hanya untuk memperbaiki sikap silent nya dalam kemajuan bangsanya sendiri.
 
Tidak ada ruang untuk berdiam diri, apalagi untuk generasi muda, generasi millenial yang menjadi penentu ke arah mana negara akan memantapkan haluan. Apakah hanya sebagai pengikut, atau menjadi panutan bagi negara-negara lainnya.

Sadari, bahwa politik itu baik, selama pelakunya baik. Jangan biarkan orang-orang yang tidak baik menjadi penguasa dalam bidang politik. Karena politik adalah "seni berperang" secara konstitusional dalam meraih kekuasaan.

Pahami, bahwa penting bagi kita sebagai masyarakat masa kini untuk berperan aktif sebagai pembangun negara, mewujudkan negara Indonesia yang sesuai cita-cita dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.


Kedzoliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik
Share:

Git Agusti

Git Agusti
Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Blogger Cianjur | Buzzer | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Random Writer |

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Ayah Blogger

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"