#CHILDHOODChallenge | Membuka Lembaran Lama Anak Kampung 90an


Waktu liat kolom challenge ODOP hari ketiga kemudian saya mengetahui bahwa tulisan hari ini bertema childhood. Satu idiom sederhana yang membuat ingatan saya terasa ditarik arus lorong waktu ke titik berpuluh tahun yang lalu. Tidak terasa usia sekarang sudah lebih dari seperempat abad, dua tahun lagi menuju kepala tiga. Kejam sekali rasanya waktu berjalan begitu cepat hingga masa-masa kecil dan remaja yang menyisakan banyak kenangan manis asem meninggalkan kita begitu saja. Kalau saja kantong Doraemon itu nyata, benda pertama yang akan saya ambil adalah mesin waktunya agar bisa bebas mengunjungi ke masa-masa yang saya rindukan. Menghayal, haha.
Namun tulisan ini tak memiliki foto, karena waktu itu memiliki dokumen foto bukanlah hal mudah, karena bertempat tinggal di pelosok daerah yang memiliki keterbatasan teknologi.

Salahsatu yang masih saya ingat dengan jelas adalah bagaimana harus bisa beradaptasi beberapa kali karena orangtua saya tercatat dalam ingatan beberapa kali pindah rumah sebagai tempat tinggal. Hal yang menyedihkan adalah banyak berpisah dengan sahabat yang dimiliki. Sangat sulit saat ini saya hubungi kembali beberapa dari sahabat karena ternyata beberapa dari mereka juga pindah tanpa saya tahu dimana posisinya saat ini.

Waktu berusia lima tahunan saya adalah adik dari dua bersaudara, kakak saya juga laki-laki Keluarga saya bukanlah dari kalangan orang berada, mereka adalah para pekerja keras yang mengandalkan buruh serabutan di perkebunan sayur di daerah tepian Kabupaten Bandung. Waktu itu TV menjadi barang yang eksklusif di lingkungan tempat tinggal saya. Jika ingin menonton acara kesukaan Si Unyil dan Satria Baja Hitam adalah menjadi kebiasaan saya untuk kuat berdiri berlama-lama menghadap jendela kaca besar rumah salahsatu juragan sayur. Setidaknya satu sampai dua jam saya habiskan dengan posisi demikian setiap harinya untuk dapat mengikuti alur cerita bersambung dari kedua film favorit. Betapa bahagianya setiap kali bisa menyelesaikan episode per episode setiap harinya meski terkadang harus lari pontang-panting ke rumah karena saking takutnya dimarahi si pemilik rumah yang kaca jendelanya kotor terkena tangan kami.

Pada usia lima tahun adalah momen adaptasi yang paling berat yang dialami karena lagi-lagi harus berpindah tempat tinggal ke lingkungan yang lumayan jauh berbeda keadaannya dengan yang sebelumnya.

Bapak memboyong kami sekeluarga ke daerah yang lebih jauh dari perkotaan. Kalau yang tadinya angkutan kota (angkot) di jalanan menjadi pemandangan sehari-hari disini mah boro-boro. Teman-teman baruku melihat mobil angkutan hasil bumi melintas di jalanan butut saja sudah menjadi hiburan yang langka dan mengasyikan bagi mereka.

Awalnya sangat berat dirasakan ketika harus tinggal di tempat yang demikian pelosoknya. Ketika malam menjelang lampu minyak menjadi penerang sampai pagi menjelang, hanya beberapa penduduk saja yang memiliki penerangan listrik itupun dari pembangkit listrik sederhana dengan memanfaatkan kincir yang digerakan oleh air sungai.

Namun ternyata dari sinilah kehidupan masa kecil yang indah dan bahagia dimulai.

Seiring berjalannya waktu di tempat tinggal yang baru, saya mulai berkenalan dengan lingkungan yang benar-benar jauh dari keseharian permainan anak-anak yang bertempat tinggal di zona cincin kota. Disini benar-benar memanfaatkan alam sebagai tempat bermain. Memancing ikan mengikuti aliran sungai di sekitar tempat tinggal lalu kemudian membakar dan menikmatinya dengan teman-teman. Mencari belut sawah dengan urek kemudian menjual hasilnya untuk membeli kelereng dan karet gelang. Membendung sungai kecil bersama-sama hanya untuk mendapatkan kolam agar bisa berenang menyegarkan badan yang kepanasan ketika musim kemarau mulai datang. Bermain kelereng berlomba untuk mendapatkan kelereng sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali dan uangnya ditabungkan untuk simpanan kebutuhan sekolah. Pergi ke sekolah bersama teman-teman dengan keadaan bangunan sekolah yang bolong-bolong dan kerap digunakan sebagai jalan masuk kelas. Berangkat mengaji pada sore hari lalu kemudian menginap di kobong dan pulang pada esok paginya. Sekali-kali kami sepakat dengan teman-teman satu pesantren untuk bolos mengaji setelah isya lalu kemudian mengendap-endap melalui jalan kecil galengan di sawah untuk dapat menonton film layar tancep yang merupakan hal jarang bagi kami lalu kemudian pulang kembali ke kobong pada jam dua dinihari agar tidak ketahuan Pa Ustad. O iya, waktu malam kami berjalan di kegelapan kami tidak menggunakan obor karena akan dengan mudah diketahui guru ngaji,lalu kemudian menggunakan jamur yang bercahaya dalam gelap yang kami taruh di punggung teman yang ada di depan sebagai penanda ke arah mana kami harus melangkah agar tidak salah melangkah ke lumpur sawah.

Sungguh menyenangkan memiliki masa kecil yang menurut saya begitu sempurna. Tanpa televisi, tanpa listrik, tanpa dingdong dan kami memiliki banyak permainan dan aktivitas ala anak kampung yang bersahabat dan begitu dengan dengan alam.

Saat ini, 20 tahun kemudian, perkembangan dan pengaruh teknologi memasuki wilayah kami. Aliran listrik menerobos setiap penjuru kampung, setiap rumah memiliki televisi, kendaraan lalu-lalang di jalanan, mayoritas anak dapat dengan mudah mengakses gadget, permainan tradisional semacam galah, gatrik, ucing sumput, sobintrong, ngurek, bermain kelereng, egrang, oray-orayan (ular-ularan), congklak, sondah (engklek), boy-boyan dan kasti. Sekarang tergantikan dengan permainan modern yang kebanyakan individualis bagi lingkungan dekatnya meski katanya berkelompok secara maya.

Bersyukur dapat merasakan kehidupan tradisional yang begitu banyak mengajarkan kesederhanaan. Bersahabat dengan alam yang begitu akrab dalam keseharian.
Share:

Git Agusti

Git Agusti
Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Blogger Cianjur | Buzzer | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Random Writer |

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Ayah Blogger

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"