Aman Bertransaksi Non-Tunai Menggunakan Kartu Debit dan Kredit


Teknologi yang berkembang pesat dalam beberapa dekade ini, memberikan kehidupan masyarakat lebih mudah dalam menjalani kesehariannya. Bagaimana tidak, teknologi merambah hampir semua yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.Dimulai dari perkembangan teknologi alat informasi, komunikasi, transportasi juga hal yang lainnya begitu cepatnya berubah dari konvensional yang membutuhkan biaya dan waktu yang relatif lama sekarang berubah menjadi lebih ekonomis dan efisiensi biaya dan waktu.

Kalau dulu ingin menelpon seseorang harus pergi ke warung telepon (wartel), sekarang begitu mudahnya dengan sekali usap layar gadget sudah terhubung dengan siapapun yang kita inginkan. Masih ingat begitu mahal biaya permenitnya pada zaman wartel,  belum lagi kalau jarak wartel yang jauh mau tak mau nambah lagi tuh biaya transportasinya.

Itu baru dalam bidang komunikasi, belum lagi kalau kita perhatikan perkembangan teknologi dalam  transaksi keuangan. Dulu masyarakat hanya memiliki cara pembayaran tunai untuk melakukan pembayaran, sekarang tidak lagi. Transaksi sudah dipermudah dengan layanan pembayaran non-tunai. Jadi tidak perlu lagi kita membawa banyak uang tunai dalam kantong atau saku yang terlalu banyak resiko dan banyak memakan ruang.

Di Indonesia sendiri meskipun transaksi non-tunai memanfaatkan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang termasuk di dalamnya adalah Kartu ATM, Kartu Debit dan Kartu Kredit juga Uang Elektronik diperkenalkan sejak tahun 2007. Namun hingga tahun 2018 sendiri belum sepenuhnya masyarakat tertarik untuk menggunakan layanan tersebut. Apalagi di daerah pedesaan yang mayoritas masyarakatnya memiliki pemahaman tentang sistem pembayaran non-tunai yang masih minim. 

Alasan orang enggan menggunakan sistem transaksi non-tunai
Setidaknya ada beberapa alasan kenapa masyarakat enggan memanfaatkan sistem pembayaran non tunai, diantaranya:
1. Pengurusan yang dinilai memerlukan waktu lama
Bagi sebagian orang, mengalokasikan waktu untuk pergi ke bank merupakan hal yang terasa berat karena enggan berlama-lama mengikuti proses pembukaan rekening baru. Antrian yang seringkali membutuhkan waktu dinilai dapat menyita waktu untuk mereka mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Jarak tempuh ke kantor bank yang jauh
Di daerah perkotaan, kantor cabang bank dan ATM (Anjungan Tunai Mandiri) memang relatif mudah ditemukan. Namun, bagaimana dengan masyarakat di daerah-daerah terpencil? Di luar Pulau Jawa misalnya, jumlah kantor cabang relatif lebih sedikit. Baru beberapa waktu belakangan ini saya sendiri menikmati kemudahan bertransaksi menggunakan layanan mini ATM, dapat memanfaatkan kartu ATM saya untuk transfer antar rekening atau pun mengambil uang tunai di agen yang membuka layanan tersebut. 
3. Mode transaksional tunai di pedesaan
Untuk masyarakat pedesaan, dalam memenuhi kebutuhan kebanyakan proses jual belinya adalah menggunakan uang tunai. Tidak seperti di perkotaan, ketika mereka berbelanja dengan mudah dapat menggunakan kartu debit atau kredit untuk melakukan pembayaran.
4. Besaran penghasilan yang relatif kecil
Penghasilan yang relatif kecil perharinya membuat masyarakat enggan untuk memasukannya ke dalam rekening. Sehingga lebih memilih menyimpannya secara langsung untuk kemudian dapat dikeluarkan untuk digunakan ketika dibutuhkan secara tiba-tiba. 
5. Keamanan transaksi non-tunai
Saat ini masih orang yang hidup di zaman modern yang berpikiran konvensional. Ketika banyak orang yang memilih transaksi non-tunai karena aneka kemudahan dan keuntungan yang diperoleh, orang dengan tipe konvensional masih tetap menggunakan transaksi tunai sebagai metode pembayarannya. Alasannya karena merasa tidak aman bertransaksi menggunakan mesin dan khawatir dengan sistem keamanannya yang belum dapat membuatnya khawatir. Padahal bertransaksi dengan transaksi non-tunai sangat aman asalkan kita memahami cara transaksi non tunai yang aman.

Macam-Macam Kejahatan Dalam Transaksi Non-Tunai
Memang kekhawatiran ini tidak terlepas dari fenomena kejahatan yang mengintai dalam sistem pembayaran atau transaksi non tunai, diantaranya: 
#1 Malware 
Pelaku mengintai menggunakan malware untuk mendapatkan username & password pengguna. Malware tidak bersarang di website bank tetapi di browser yang digunakan oleh nasabah. Kemudian pelaku akan menerima notifikasi dari malware ketika nasabah/korban sedang aktif. Pada layar browser korban akan muncul notifikasi pop up untuk sinkronisasi token. Kode token yang digunakan oleh korban pada pop up digunakan oleh pelaku cyber crime untuk melakukan transaksi secara online saat itu juga. Terdapat 2 token yang diterima, yaitu untuk mendaftarkan rekening dan melakukan transaksi.
#2 Skimming 
Card skimming adalah aktivitas menggandakan informasi yang terdapat dalam pita magnetik (magnetic stripe) yang terdapat pada kartu kredit maupun ATM/debit secara ilegal.
Berikut sistematis cara kerja pelaku skimming:
Pelaku mencari target mesin ATM yang ingin dipasangai skimmer. Kriteria yang dicari adalah mesin ATM yang tidak ada penjagaan kemanan, sepi dan tidak ada pengawasan kamera CCTV. Kemudian Pelaku memulai aksi pencurian data nasabah dengan memasang alat skimmer pada mulut mesin ATM. Lalu melalui alat skimmer para pelaku menduplikasi data magnetic stripe pada kartu ATM lalu mengkloningnya ke dalam kartu ATM kosong. Proses ini bisa dilakukan dengan cara manual, di mana pelaku kembali ke ATM dan mengambil chip data yang sudah disiapkan sebelumnya. Atau bila pelaku sudah menggunakan alat skimmer yang lebih canggih, data-data yang telah dikumpulkan dapat diakses dari mana pun. Umumnya data dikirimkan via SMS. 
#3 Phising 
Phishing merupakan suatu upaya untuk menipu mendapatkan informasi sensitif, seperti username, password dan rincian kartu kredit, dengan muncul sebagai entitas terpercaya dalam sebuah komunikasi elektronik. Phishing biasanya dilakukan melalui email atau pesan instan dan sering mengarahkan pengguna untuk memasukkan rincian di sebuah website, walaupun kontak telepon juga telah digunakan. E-mail palsu adalah alat yang paling banyak digunakan untuk melakukan serangan phishing. Dalam banyak kasus kita mendapatkan e-mail palsu yang tampaknya telah datang dari website terpercaya. Berikut hacker dapat meminta kami untuk memverifikasi username dan password dengan memutar ke alamat email yang diberikan. 
#4 Pembajakan SIM Card
Cara kerja kejahatan ini adalah pelaku datang ke gerai untuk mendapatkan sim card target dengan identitas yang dipalsukan. Kemudian pelaku menelpon call center bank untuk melakukan reset password internet banking. Langkah selanjutnya adalah pelaku kemudian dapat melakukan transaksi menggunakan account korban.
Dari beragam alasan kenapa masyarakat ragu untuk menggunakan sistem transaksi non tunai, faktor keamanan bertransaksi menjadi salahsatu hal yang menjadi alasan terbesarnya. Padahal jika kamu sudah mengetahui cara aman bertransaksi mungkin kamu akan mulai berfikir untuk memilih bertransaksi non tunai karena berbagai kemudahan dan keuntungan yang akan diperoleh.

Manfaat Penggunaan Transaksi Non-Tunai
Berikut adalah manfaat dari penggunaan kartu debit dan kredit:
#1 Mempermudah dan mempercepat transaksi melalui ATM seperti tarik tunai, cek saldo, maupun transfer.
#2 Mempermudah transaksi saat berbelanja sehingga tidak perlu membaca uang tunai dengan jumlah yang banyak
#3 Terhindar dari kerugian yang relatif besar ketika terjadi tindakan kejahatan/kriminal seperti pencopetan atau penjambretan di perjalanan atau pun di tempat belanja.
#4 Untuk kartu kredit sendiri terdapat penawaran-penawaran menarik dari bank yang menerbitkan kartu kredit tersebut misalnya discount, reward dan yang lainnya

Tips Aman Bertransaksi 
Dengan demikian, tidak ada salahnya kamu untuk memahami tips-tips aman bertransaksi non tunai dibawah ini:
Untuk kartu ATM
#1 Mengganti Personal Identification Number (PIN) Secara Berkala
PIN berfungsi penting sebagai kata kunci data keamanan dana dan informasi keuangan di bank. Perbankan juga aktif menghimbau agar PIN akses ke ATM kamu diganti secara berkala. Rasa nyaman saat menggunakan sejumlah PIN yang begitu mudah diingat dalam kurun waktu yang cukup lama, membuatmu merasa aman. Padahal, ada sejumlah risiko yang harus disadari saat tidak pernah ganti PIN ATM untuk kartu debit atau kreditmu. Risiko utamanya pembobolan dana kamu via mesin ATM.
#2 Hindari Penggunaan PIN Yang Mudah Ditebak
Salah satu password yang harus dihindari adalah angka berurutan, seperti 123456. Namun, ternyata susunan angka 1234 justru menjadi kombinasi angka kode PIN 4 digit yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Kalau ingin menggunakan tanggal, hindari tanggal kelahiran alias ulang tahun atau tanggal pernikahanmu agar tidak mudah ditebak oleh orang yang memiliki niat tidak baik. 
#3 Melindungi Kerahasiaan PIN
Cara yang paling mudah melindungi kerahasiaan PIN saat kamu bertransaksi adalah menutup keypad ketika kamu memasukkan PIN saat bertransaksi atau jika ingin lebih yakin gunakan ATM yang sudah menggunakan keypad cover. 
#4 Simpan Kartu ATM di Tempat Yang Aman
Selalu simpan kartu ATM kamu dengan hati-hati, pastikan penyimpanannya tidak membuat kartu ATM mudah jatuh, terkena cairan yang dapat merusak kartu atau mungkin juga seringkali lupa menyimpan karena bukan di tempat yang mudah ditemukan. 
#5 Waspadalah Terhadap Lingkungan Sekitar ATM
Selalu waspada ketika akan menggunakan ATM di tempat-tempat tertentu. Semisal di area yang memiliki tingkat kepadatan berlebih seperti di pasar atau mall pada jam-jam sibuk. Hindari juga menggunakan ATM yang terletak di tempat yang sepi karena rawan pengintaian para pelaku tindak kriminal.  
#6 Ambil Kartu ATM dan Bukti Transaksi
Dalam beberapa kasus kejahatan yang memanfaatkan kartu ATM yang bukan miliknya, biasa berawal dari nasabah yang lupa mengambil kartu ATM dari mesin ATM saat transaksi berakhir. Alasannya beragam, entah karena kebiasaan lupa, sedang terburu-buru atau karena panik dengan antrian pengguna lain di belakangnya.
Kemudian untuk struk transaksi sendiri jangan pernah meninggalkannya begitu saja. Struk transaksi adalah bukti dari segala transaksi yang dilakukan melalui ATM, baik itu pemindahan dana (transfer) atau tarik tunai. Jika membuang struk tersebut, kamu sulit untuk mengecek kembali kebenaran transaksi yang dicetak pada buku tabungan. Jika terjadi kesalahan pada bank, pelaporan dan disertai dengan bukti transaksi akan lebih cepat diurus. Selain itu, pada saat pemindahan uang, struk akan mencetak nomor rekening tujuan. Untuk mencegah agar nomor tersebut tidak disalahgunakan sebaiknya simpanlah struk atau jika memang tidak memerlukannya lagi, robeklah kertas tersebut menjadi beberapa lembar, jika kamu melakukan ini, jangan lupa untuk tidak membuangnya secara sembarangan sehingga mengotori lingkungan.
Untuk Kartu Kredit
#1 Simpan Dengan Aman Kartu Kredit Tersebut
Hal yang sama yang harus dilakukan seperti pada kartu ATM kamu, selalu simpan credit card dengan hati-hati dan selalu menempatkannya pada tempat yang menurutmu benar-benar aman. 
#2 Simpan Bukti/Struk Transaksi
Selalu simpan bukti transaksi belanja melalui mesin EDC setidaknya untuk dua atau tiga bulan terakhir, terutama untuk pemakaian kartu kredit. Slip tersebut sangat berguna untuk memastikan kebenaran tagihan bank penerbit kartu kredit. Saat tagihan bulanan datang pada akhir siklus, cocokkan isinya dengan slip transaksi yang masih tersimpan.  
#3 Jaga Kerahasiaan Nomor Kartu Kredit
Memastikan agar data-data pribadimu tidak bocor kemudian dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab sangatlah penting. Kebocoran data kartu kredit ke pihak yang tidak bertanggungjawab bisa mengakibatkan kasus fraud atau penyalahgunaan kartu kredit.
#4 Pastikan Tagihan Kartu Sesuai Dengan Transaksi Yang Kamu Lakukan 
Saat kamu berbelanja kemudian menggunakan kartu kredit untuk membayarnya, pastikan tagihan kartu sesuai dengan jumlah transaksi yang dilakukan. Pastikan tidak ada selisih antara tagihan kartu dengan jumlah yang seharusnya dikeluarkan. Kemudian jangan anggap remeh slip transaksi yang diterima. Kalau pun mau membuangnya tetapi alangkah baiknya disimpan hingga tagihan datang. Slip transaksi yang nanti diterima akan menjadi dasar yang cukup kuat untuk membuktikan jika ada selisih yang signifikan ketika perhitungan tagihan datang.  
#5 Pastikan Mengambil Kartu Kredit dan Bukti Pembayaran
Di saat-saat tertentu, adakalanya lupa mengambil kartu kredit pasca melakukan transaksi non tunai baik di restoran atau pun di pusat-pusat perbelanjaan. Beruntung jika ada yang mengingatkannya untuk kamu sehingga terhindar dari penyalahgunaan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. 
#6 Gunakan Situs Belanja Online Yang Terpercaya
Saat ini banyak sekali situs belanja online atau e-Commerce yang didirikan di Indonesia. Konsumen semakin terdorong untuk berbelanja karena situs belanja online tersebut gencar menawarkan promosi. Belanja di situs belanja online menjadi gaya hidup baru. Dengan sistem belanja online maka sistem pembayarannya pun menggunakan sistem transaksi non tunai meskipun ada beberapa situs belanja online yang menawarkan sistem Cash On Delivery (COD). Setidaknya pastikan pembayaran non tunai kamu aman dengan memperhatikan aspek keterpercayaan situs tersebut, para penjual yang membuka lapak disana, atau bahkan kamu bisa menelitinya sampai ke testimoni konsumen terutama kepuasaan terhadap pelayanan para seller di situs belanja tersebut. 
#7 Selalu Gunakan Aplikasi Yang Terpercaya
Gunakan aplikasi pengaman komputer dan gadget yang sering digunakan untuk transaksi online untuk mengurangi risiko pembajakan perangkat atau pun tindakan kejahatan cyber lainnya. 
#8 Simpan Nomor Call Center
Menyimpan nomor Call Center bank penerbit kartu kreditmu adalah salahsatu cara cerdas untuk kemudahan ketika memiliki masalah yang ditemui selama kamu memanfaatkan kartu kredit dalam keseharian. Kamu dapat dengan mudah menyampaikan keluhan atau sekedar konsultasi tentang masalah kartu kredit yang dimiliki. 

Perlindungan Konsumen
Dengan kemudahan serta keragaman layanan sistem pembayaran non-tunai yang dibarengi dengan peningkatan transaksi dalam jasa sistem pembayaran tersebut tentunya membawa konsekuensi tidak saja bagi konsumen namun juga bagi penyelenggara maupun otoritas di bidang sistem pembayaran. Konsumen menginginkan adanya informasi yang akurat dan jelas mengenai manfaat dan risiko mengenai jasa sistem pembayaran. Hal tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul dalam menggunakan jasa sistem pembayaran. 

Di dunia perbankan Indonesia sendiri dibentuk divisi yang khusus menangani perlindungan konsumen jasa sistem pembayaran yaitu Divisi Perlindungan Konsumen Sistem Pembayaran yang mulai berdiri pada 1 Agustus 2013. Pembentukan divisi ini dilatarbelakangi oleh makin meningkatnya transaksi dalam sistem pembayaran serta sebagai bentuk kepedulian terhadap seluruh konsumen sistem pembayaran. Fungsi divisi ini adalah edukasi, konsultasi dan fasilitasi. Kegiatan ini pada akhirnya dapat membantu konsumen yang ingin meminta informasi dan/atau penanganan permasalahan sistem pembayaran.

Perlindungan Konsumen Jasa Sistem Pembayaran memiliki 3 fungsi yaitu:
  1. Edukasi diberikan kepada konsumen yang ingin mengetahui lebih jelas mengenai produk-produk sistem pembayaran yang dilakukan secara aktif oleh BI melalui melalui media masa ataupun edukasi dan sosialisasi mengenai produk jasa SP kepada masyarakat, akademisi, mahasiswa, sekolah sekolah dll.
  2. Konsultasi dilakukan terkait dengan permasalahan penggunaan produk SP dari masyarakat, penyelenggara SP melalui telepon, e-mail, surat menyurat maupun datang secara langsung
  3. Fasilitasi dilakukan terhadap sengketa antara konsumen dengan penyelenggara jasa SP yg berindikasi adanya kerugian financial bagi konsumen. Fasilitasi dilakukan dengan cara memanggil, mempertemukan, mendengar, memotivasi.   
Adapun cakupan perlindungan konsumen jasa SP meliputi:
  1. Penerbitan instrumen pemindahan dana dan/atau penarikan dana
  2. Kegiatan transfer dana
  3. Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (Kartu ATM/Debet & Kartu Kredit)
  4. Kegiatan uang elektronik
  5. Kegiatan penyediaan dan/atau penyetoran uang Rupiah
  6. Penyelenggaraan SP lainnya yang akan ditetapkan dalam ketentuan BI
    Sedangkan mekanismenya sendiri kamu dapat memperhatikannya di bawah ini: 

    Jadi, rasanya untuk tidak perlu lagi rasanya terlalu khawatir untuk memulai sistem transaksi non tunai, aman bertransaksi non-tunai menggunakan kartu debit dan kredit. karena kemajuan zaman hanya berpihak pada orang yang dapat beradaptasi dengan zaman itu sendiri. Selama itu baik dan memberikan dampak yang positif bagi kita untuk mempermudah segala kebutuhan di era digital ini.

    Mari sukseskan Gerakan Nasional Non Tunai, untuk memudahkan transaksi keuangan, yang tentunya mudah, aman dan efisien.

Share:

Git Agusti

Git Agusti
Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Blogger Cianjur | Buzzer | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Random Writer |

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Ayah Blogger

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"