Basa-Basi ? Jangan Bikin Risi Ya

Setiap orang dalam kesehariannya dipastikan akan bertemu dengan oranglain. Entah itu rekan di tempat kerja, saudara ataupun orang yang baru bertemu dan kebetulan memiliki sedikit waktu untuk bertegur sapa.
Namun bagi beberapa orang bertegur sapa dengan orang yang belum atau tidak akrab menjadi dilema. 
Eh kok dilema ya?
Ya dilema karena seandainya tidak menegur akan terkesan sombong atau apalah, kalau menegur atau sekedar berbasa-basi nanti dikira SKSD. Nah ada istilah jadulnya keluar, hihi. Maklum bukan abegeh zaman now.
Berbasa-basi ga apa-apa asalkan memiliki batasan pertanyaan yang goalnya adalah untuk mencairkan suasana canggung.
Yang harus dihindari adalah ketika kita melontarkan pertanyaan basa-basi, ga taunya malah membuat lawan bicara menjadi risi dengan pertanyaan itu sendiri. Nah kan kebayang efeknya gimana? Baru aja ketemu udah menyebalkan, gawat!
Okeee... dari beberapa pengalaman berinteraksi dalam keseharian dengan banyak orang ada beberapa pertanyaan yang sangat dibenci dan dibenci seseorang.
Dibenci karena dapat menyakiti hati dan menyinggung perasaaan, ga masalah itu laki-laki atau perempuan, sama-sama punya hati dan perasaan, macam lagunya siapa itu... hmm.
Yuk scrollllll....
1. Kapan nikah ?
Naaaah, pertanyaan ini berada di level pertama pertanyaan yang masuk katagori basa-basi yang tidak disukai banyak orang. Ya tau sendirilah kalau jodo, pati, bagja, cilaka itu Tuhan yang ngatur. Datangnya ga tau kapan dan dengan cara bagaimana.
Nah lantas kamu menanyakan itu ke seseorang yang jarang bertemu atau baru dikenal? Cari mati lah itu namanya, haha. (maksudnya mati silaturahmi sih)
Sekuat apapun dorongan untuk melontarkan pertanyaan itu, DON'T SAY IT!
Karena yang berhak menanyakan hal seperti itu hanya beberapa orang saja, misalnya orangtuanya sendiri. 
O iya, dulu pernah menjawab pertanyaan itu ke seseorang dengan pertanyaan : 
"Kapan mati?"
Dan si penanya nyolot karena ditanya hal itu.
"Kenapa nanya kapan mati?"
"Ya karena jodoh itu kaya kematian, ga tau kapan datangnya, haha"

2. Kapan punya anak ?
Di level 2, ada pertanyaan menyebalkan yang sering orang kepo gajelas tanyakan ke seseorang atau pasangan yang baru menikah ataupun sudah lama menikah. Setiap orang memiliki perencanaan masing-masing dengan keinginan untuk memiliki anak. Ada yang langsung ingin momong bayi, ada pula yang menahannya karena suatu hal semisal alasan studi atau pekerjaan, atau yang terakhir karena belum waktunya memiliki meski sudah berniat, yaaa kan itu mah takdir, Tuhan yang ngatur.
Jadi, DON'T SAY IT!

3. Berapa gajimu ?
Nah ini apalagi, udah kaya emaknya aja kalau ada yang menanyakan kepada seseorang tentang gajinya. Ga jarang ada seseorang yang baru dikenal tapi sudah dengan beraninya berbicara menyinggung masalah jumlah gaji di pekerjaan. Memang ga haram juga tapi itu adalah hal yang sangat sensitif. Bisa saja seseorang memilih pekerjaan yang tidak berdasarkan gaji. Entah besar atau kecil tapi pekerjaan membuatnya merasa puas. Misalnya kalau dia adalah pekerja sosial maka akan terasa absurd ketika yang dibicarakan adalah gaji, atau mungkin ada seseorang yang merasa tidak perlu membahas jumlah penghasilan karena tidak mau pamer dengan penghasilannya itu sendiri. Atau mungkin saja dia baru saja di PHK dari tempatnya bekerja, ditengah stres yang sedang berusaha diatasi eh ada si geje bertanya ga peka dan ga pake saringan. Nambah stres aja tuh. Jadi berfikir lagi sebelum menanyakan hal yang berhubungan dengan gaji seseorang. Lagian kita bukan PPATK, yang menanyakan berapa jumlah gaji dan kekayaan seseorang waktu dia daftar jadi pejabat negara, uhuy!.

4. Kapan wisuda ?
Terkadang kita menemukan beberapa orang memiliki perjalanan menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi dengan masa yang dapat dikatakan berbeda dengan kebanyakan mahasiswa.  Entah dia lulus dengan mudah atau sebaliknya, agak sulit dan lebih lama. Akan menjadi hal yang cukup sensitif ketika tiba-tiba ada pertanyaan "kapan wisuda?" kepada seseorang yang memiliki masalah dalam masa memperjuangkan wisudanya. Misalnya ada yang kuliah sampai 6 atau 7 tahun karena masalah finansial dan kita tahu sendiri masalah finansial itu sering membuat seseorang tertekan. Nah dalam keadaan tertekan kemudian ada pertanyaan "Kapan Wisuda?" muncul tiba-tiba dari situasi basa-basi?
Kecuali kalau kita menanyakan itu untuk kemudian membantu kesulitan yang tengah dihadapinya dengan memberikan bantuan dan motivasi agar dia tetap bersemangat. Ya kalau kita bertanya hanya untuk menunjukan jawaban "Oh" ketika seseorang menjawab tentang wisudanya, lebih baik ga usah bertanya. GA USAH.

5. Kok sendiri? Mana pasangannya?
Ada yang tahu dimanakah pertanyaan ini sering muncul ?
Yaaaa betullll....
Di kondangan, iya!
Di reunian, iya!
Yang paling lucu sih ketika yang menanyakan ini juga datang sendiri tanpa didampingi seseorang, semisal asisten penagih utangnya, haha.
Pertanyaan ini ada yang benar-benar bertanya karena ingin menanyakan itu atau bisa juga modus bagi seorang lawan jenis untuk mendapatkan respon dari yang ditanya. Ya dia berfikir mungkin dengan bertanya seperti itu ingin memastikan apakah yang ditanya sudah memiliki pasangan atau belum. Kalau belum dia punya kesempatan (ini maksudku modus) untuk pedekate. Nah modus kan?
Pertanyaan ini ga perlu-perlu amat kok. Karena banyak orang memilih untuk datang sendiri ke acara tertentu karena berbagai alasan. Misalnya karena ingin memiliki privasi dalam hal status pribadinya. Jangan berfikir seseorang yang memiliki pasangan harus selalu berangkat kesana kemari dengan pasangannya kaya prangko sama amplop, nempeeeeeel terooos. Jangan berfikir seseorang yang memiliki pasangan harus selalu pamer pasangannya, karena pasangan hidup bukan untuk dipamerkan. Emangnya eloooh yang pamerin pasangan kaya pamerin mainan baru.
Selain itu menghindari menanyakan hal semacam ini juga dalam rangka untuk menghormati seseorang yang memilih single untuk kehidupannya. Entah single karena divorce atau single karena sedang menunggu waktu dan calon pasangan hidup yang tepat kemudian tanpa berpacaran langsung menikah. Emang ada tipe seperti itu? Jawabannya ada.

6. Sudah hamil?
Hampir sama dengan poin 2 diatas, pertanyaan ini wajib dihindari ketika memulai obrolan dengan seseorang. Apalagi pertanyaan ini fokusnya ke perempuan, kan laki-lagi ga mungkin hamil juga.
Beberapa wanita yang sudah berumahtangga memiliki kesulitan dalam memiliki anak dan banyak orang tidak peduli dengan itu. Siapa pula orang yang sudah berumahtangga yang tidak memiliki anak? Memberikan kebahagiaan untuk suami dan keluarga kedua belah pihak. Hanya saja itu tadi, bagi beberapa calon orangtua ada diantaranya yang belum dipercayakan untuk memiliki keturunan padahal sangat mengidamkannya.
Pertanyaan ini akan sangat menyinggung apalagi jika keadaan orang sedang tidak mau mendengar orang menanyakan hal-hal ke arah sana. Daripada merusak suasana, lebih baik tidak mengucapkan pertanyaan seperti ini.

7. Kenapa ga merokok?
Ini dia pertanyaan terakhir yang sering saya temui sendiri ketika sedang dalam situasi berkumpul atau bertemu seseorang. Mayoritas perokok akan mencabut sebungkus rokok kemudian mengambil dan menyulutnya, kemudian menghirupnya tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Entah itu di tempat-tempat umum semacam stasiun, terminal, bis atau kadang ruangan tertentu yang bahkan ada anak-anak disana, cukup menyebalkan bukan?
Ketika sedang berbicara tidak jarang mereka menawarkan rokok kepada kita dan saya selalu menolaknya dengan baik-baik.
Tapi apa yang terjadi? Terkadang banyak yang langsung bertanya "Kenapa tidak merokok?"
Selanjutnya akan membawa kata-kata "ga ngerokok ga jantan, ga gaul" dan lain-lain.
Padahal kalau mereka berfikir dengan jernih tidak perlu menanyakan itu karena merokok sendiri semua orang tahu tidak baik untuk kesehatan. Kalau memang baik untuk kesehatan kenapa tidak mereka ajarkan merokok kepada anak-anak atau saudara mereka yang masih kecil?. Buktinya tidak! Merekapun sadar bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan namun anehnya masih sering menanyakan "Kenapa tidak merokok?"
Mungkin beberapa pertanyaan diatas terdengar sederhana, namun tidak bagi mereka yang sedang mendengarnya. Bukannya merasa nyaman, mereka justru merasa tersinggung dan tidak merasa mendapatkan kesan yang baik ketika berkomunikasi dengan kita.
Niatnya ingin mencairkan suasana, justru semakin membeku dan memberi bekas yang kurang baik bagi salahsatu pihak.
Share:

Git Agusti

Git Agusti
Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Ngakunya Blogger | Blogger Cianjur | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Just Writing | Review Everything | Random Writer |

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Ayah Blogger

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"