"Dia Mengikuti Kami...."

Udah malam Jum'at lagi nih... Eh ini malam Jum'at atau Kamis malam ya? Hehe. Entahlah gimana enaknya aja mau malam Jum'at atau Kamis malam ngga begitu berefek, sama-sama gelap dan sedikit bau horror.
Karena identik dengan horror maka ada baiknya share cerita cerita ga menyeramkan. Karena memang tidak menyeramkan soalnya kurang bisa bercerita horror. Lagian kurang berpengalaman karena jarang mengalami hal-hal horror. Kecuali cerita ga horror berikut ini. Yuk pantengin.
Waktu itu saya masih berusia kurang lebih 11 tahun, kebetulan sejak kelas satu SD sudah menjadi "santri kalong". Ada yang tahu istilah "santri kalong" ? Yakni santri yang menuntut ilmu ketika malam saja, masuk kobong sejak ashar dan pulang ke rumha ketika pagi untuk melanjutkan sekolah formal.
Lanjut-lanjut...sampai mana tadi yaa... Oh iya belum sampai kemana-mana, hihi.
Malam itu jarum jam di dinding mesjid sudah menunjukan angka sembilan lebih seperempat ketika kami memutuskan untuk pergi ngobor pada malam hari. Kegiatan ini kami lakukan untuk sekedar mengisi waktu jika mengaji tidak berlangsung sampai larut malam. Sering kami pergi ke sungai-sungai kecil di pinggiran sawah dengan membawa obor, senter, ember dan jaring untuk persiapan menangkap ikan dan belut sawah. Dengan alat seadanya itu kami sering berangkat beramai-ramai. Kami suka melakukannya karena hasilnya sering kami olah dengan dibakar atau dimasak kemudian kami santap bersama-sama. Makanan lezat dan penuh gizi bagi anak-anak kampung seperti kami. Oh iya, dulu itu listrik belum masuk ke wilayah kami jadi kondisi perkampungan pada malam hari penerangannya hanya menggunakan lampu minyak saja, kalaupun ada yang menggunakan genset dan accu besar itu hanya untuk kalangan orang berada, itupun jarang.
Kami berangkat malam itu hanya berlima saja, kebetulan santri-santri yang lain banyak yang tidak ikut, entah kenapa. Haah ya sudahlah, karena sudah melakukan persiapan kami berangkat saja, kadung.
Maka berangkatlah kami dengan masing-masing peralatan di tangan kami. Seperti biasanya semuanya berjalan secara rapi dalam 1 barisan karena jalan yang kecil galengan sawah.
"Eh bagus ya terang bulan." Celetuk Agus
"Iya, bakalan dapat banyak geura lah!" Didi menyahut
"Mudah-mudahan aja lah, kita lapar berat ini, butuh makan banyak, haha!
"Tapi aneh banyak yang tidak ikut, katanya pada cape tadi siang habis sepakbola"
"Ga cape gimana mereka main bola di lapang gede tapi pemainnya dikit...."

Sampailah kami ke sungai kecil tujuan kami mencari ikan, kebetulan airnya sedikit surut karena beberapa minggu ini hujan tak turun di daerah tempat tinggal kami. Tapi itu lebih bagus karena lebih mudah ditangkap ketika ada ikan terlihat.

"Bantu penerangan ke arah sini dong"
"Iya iya, obornya susah nyala Gus"
"Minyaknya kurang mungkin, coba dilihat"
"Banyak kok, nah udah siap!

Mulailah kami mencari ikan di sungai dengan arah mengikuti aliran ke bawah. Lumayan tangkapan kami satu per satu kami masukan ke dalam ember. Kami begitu senang karena sepertinya malam ini agak banyak. Tidak terasa sudah jauh kami berjalan menyusuri aliran sungai dan hasilnya pun lumayan.

"Udah banyak, udahan yuk"
"Nanti dulu, masih banyak ini"
"Udah aja dulu, malam besok turun lagi"
"Ah berisik, teruskan aja dulu"

"Ih udah malem, besok Subuh kesiangan dimarahin Pa Ustad! Mau?
"Ga bakalan, dijamin bangun awal deh"
"Heuh, hayu pulang"
"Bentar lagi, kalau mau pulang sendiri aja sana"

Karena kalah suara akhirnya saya mengikuti suara terbanyak agar tetap melanjutkan mencari ikan.
Semua berjalan normal kecuali saya merasa ada seseorang yang mengikuti dari belakang. 
Kemudian saya menengok.

Tidak ada siapapun!

Ah mungkin hanya perasaan saya saja. Kemudian saya melanjutkan kembali berjalan menyusul teman-teman yang meninggalkan saya beberapa jarak di depan.
Namun kemudian ketika mempercepat jalan kembali saya mendengar air sungai di belakang saya kersuara seperti ada seseorang berjalan diatasnya.
Saya tengok kembali, tidak ada siapapun, tidak ada apapun kecuali gelap malam.
Hmm, saya mulai menghitung kembali semua teman yang asyik mencari ikan.

"Satu, dua, tiga, empat dan limaaa..." 

(telunjuk mengarah ke dada sendiri menunjukan saya di hitungan terakhir)
Kami berlima, dan keempat teman saya berada di depan.

"Ah mungkin yang di belakang hanya suara kodok yang loncat ke air." Bisik saya

Perasaan mulai tak menentu tapi terpaksa tidak berani pulang sendiri karena jarak terlalu jauh dan keadaan malam ini sedikit menyeramkan.

Semakin saya mempercepat kaki untuk melangkah semakin saya merasa ada sesuatu mengikuti dari belakang.
Mencoba berhenti dan menoleh ke belakang, saya arahkan obor ke kegelapan malam.
Dan...
Tidak ada apapun, hanya samar-samar semak di pinggir sungai.

Saya berjalan kembali tidak terlalu cepat.
Namun lagi-lagi terdengar seolah di belakang saya ada derap langkah kaki yang mengikuti setiap langkah saya.
Kali ini saya tidak berhenti dan tetap berjalan.
Keringat dingin mulai terasa di sekujur tubuh, entah karena berjalan atau karena situasi malam ini yang sedikit berbeda.
Suara itu tetap ada, dan tidak mau menjauh.
Sedikit saya mempercepat langkah dan semakin cepat pula suara langkah di belakang mengikuti. 
Perasaan semakin berkecamuk sementara saya berjalan tanpa berani menoleh ke belakang.
Bulu kuduk semakin berdiri tatkala telinga kiri terasa ditiup dari belakang dan itu terasa sekali.
Spontan saya berhenti.
Mematung berdiri dengan badan bergetar karena rasa takut mulai menyelimuti.
Cuaca yang membuat udara lebih dingin tak membuat badan saya dingin. Justru sebaliknya badan terasa berkeringat.
Tak sanggup saya untuk menoleh ke belakang.
Matapun dipejamkan
Saya memaksakan untuk berani menoleh ke belakang.
Suara air seperti dimainkan semakin terdengar dan itu persis di belakang saya, mungkin hanya berjarak 2-3 langkah saja.

=====================================bersambung=========================

Share:

Git Agusti

Git Agusti
Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Ngakunya Blogger | Blogger Cianjur | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Just Writing | Review Everything | Random Writer |

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Ayah Blogger

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"