Menadah Semangat Kerja Dari Rintik Hujan



Menadah Semangat Kerja Dari Rintik Hujan
Menadah Semangat Kerja Dari Rintik Hujan
Sumber : Arsip Pribadi
Bagi sebagian besar orang yang memiliki rutinitas sehari-hari dengan kegiatan terjadwal, berangkat pagi dan pulang sore adalah kebiasaan yang menjadi keharusan. Terlepas dari tuntutan kewajiban itu adakalanya untuk berangkat lebih pagi adalah hal yang sangat berat mengingat rutinitas seperti ini dihampiri oleh rasa jenuh akan pekerjaan yang begitu besar. Hal ini sulit dibantah oleh setiap orang namun bukan berarti tidak dapat diminimalisir atau dihilangkan. Untuk sebagian orang mungkin sudah ada yang memiliki trik dan jurus tertentu untuk mengakali agar semangat  dengan mudah tumbuh lebih besar ketimbang rasa malas yang dipupuk oleh perasaan bosan dan jenuh.


Anak didik kami yang berangkat dari rumah melintasi area persawahan dengan galengan (pembatas antar petak-petak sawah) yang dijadikan jalan.
Sumber : Arsip Pribadi
Ditambah dengan cuaca saat ini yang sudah memasuki musim penghujan untuk sebagian besar wilayah Indonesia. Seringkali hujan sudah menyambut di pagi hari menyebabkan semangat kerja menurun. Dengan jarak dari rumah ke tempat kerja yang terhitung lumayan jauh akan terfikirkan perjalanan yang akan dilalui dengan terpaan hujan deras sehubungan saya berangkat menggunakan sepeda motor. Ditambah dengan kondisi medan jalanan yang kurang bagus lengkap dengan lubang dengan ukuran dan kedalaman yang bisa menyebabkan kecelakaan sehingga membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian yang ekstra. Belum lagi dengan kondisi jalanan di daerah pelosok yang memiliki tingkat rawan longsor yang sangat tinggi karena alur jalan yang banyak tebing di kanan dan kiri. Kalau tidak tertimpa longsor dari tebing atas ya pasti akan terbawa longsor ke tebing bawah, belum lagi dengan pohon yang mungkin tiba-tiba tumbang, ah yasudahlah. Semoga itu tidak terjadi, aamiin.
Kegiatan sapa pagi menyambut anak-anak didik agar lebih bersemangat dalam belajar selama hampir 8 jam di sekolah
Sumber : Arsip Pribadi
Memaksakan berangkat pagi walaupun semangat sedikit meredup mengingat waktu yang semakin cepat berlalu. Karena menunggu hujan untuk reda membutuhkan waktu yang tidak sedikit dan tidak pasti akan berhenti. Sedangkan fikiran terus teringat dengan anak-anak di sekolah yang menunggu gurunya untuk menuangkan ilmu-ilmunya. Apa jadinya jika kita hanya menurutkan rasa malas kemudian menelantarkan anak didik yang akan pulang dengan hampa karena gurunya tidak masuk hari ini. Apa jadinya jika nanti mereka merasa menyesal dengan keberangkatan mereka ke sekolah sedangkan di sekolah tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan. Apa jadinya jika bibir polos mereka mengatakan : “Mak, hari ini aku tidak mendapatkan materi pelajaran di sekolah, Bapak Gurunya ga masuk.”. Hmm, sudah pastinya itu akan menjadi beban fikiran dan tanggungjawab yang akan sulit hilang meskipun keesokan harinya bisa bersua dengan mereka dan meminta maaf.
Sepanjang perjalanan hujan hanya mereda dan membesar kembali, syukurlah dari rumah sudah memakai mantel hujan dan sendal jepit agar setidaknya ketika sampai di sekolah pakaian tidak terlalu basah meskipun di beberapa bagian tetap saja air hujan merangsek masuk.
Lelah berdiri selama berjam-jam di dalam kelas tidak terasa karena terbawa suasana asyik bersama keceriaan anak didik kami
Sumber : Arsip Pribadi
Sekitar setengah perjalanan mulailah saya menjumpai beberapa siswa yang satu tujuan ke tempat sama. Beruntunglah mereka yang memakai kendaraan sepeda motor dan memakai mantel hujan karena keberangkatan mereka akan lebih cepat sampai, akan tetapi tidak dengan mereka yang mengandalkan jalan kaki dan bermodalkan payung. Terkadang satu payung mereka gunakan berdua atau bertiga sehingga hanya bagian pinggang ke atas saja yang terlindungi dari air hujan, rok dan celana yang mereka kenakan terlihat basah dan dipastikan tidak akan nyaman dipakai ketika di dalam kelas. 
Itu adalah sebagian dari mereka yang masih beruntung dapat berangkat menggunakan jalanan aspal sedikit lebih nyaman dipijak. Dibandingkan dengan anak didik kami yang berangkat dari rumah melintasi area persawahan dengan galengan (pembatas antar petak-petak sawah) yang dijadikan jalan. Dengan ukuran lebar galengan yang hanya tidak lebih dari 30 cm dan kondisi basah karena hujan tidak sedikit yang memasukan sepatunya ke dalam tas atau sekadar ditenteng kemudian rela berbecek-becek untuk sampai ke sekolah.
Dengan melihat berbagai perjuangan anak didik untuk sampai ke tempat mereka menuntut ilmu untuk memanusiakan diri, akan sangat egoisnya diri ini jika yang difikirkan hanya keselamatan dan kenyamanan diri sendiri tanpa mengingat sulitnya perjuangan mereka para pembangun masa depan. Beruntunglah dengan berangkat lebih awal dapat dilihat beberapa pengingat dan penggugah semangat sehingga dapat dipetik beberapa kuntum semangat untuk membangun masa depan mereka.
Perjuangan ini tak lebih besar dari perjuangan mereka.
Share:

Git Agusti

Git Agusti
Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Ngakunya Blogger | Blogger Cianjur | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Just Writing | Review Everything | Random Writer |

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Ayah Blogger

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"