Berkenalan dengan "Perjuangan" dalam Pekerjaan Pertama


www.gitagusti.com
www.gitagusti.com
Hal yang terlintas pertama kali jika berusaha mengingat tentang pekerjaan pertama saya adalah perjuangan atas usaha untuk mendapatkan uang tambahan agar bisa mendapatkan bekal untuk dapat tetap bisa masuk sekolah setiap harinya. Kenapa demikian ?, itu karena saya memulai belajar untuk mandiri memeras keringat sendiri untuk membantu orangtua dalam memenuhi sebagian kebutuhan biaya sehari-hari ketika saya melanjutkan sekolah yang jika dihitung jarak memang lumayan jauh dari kampung halaman meskipun masih dalam satu wilayah kabupaten yang sama.
Berangkat dengan tekad dan dukungan dari orangtua serta anggota keluarga lain setelah sedikit memaksa dan meyakinkan agar bisa melanjutkan sekolah di daerah perkotaan. Karena sebelumnya orangtua merekomendasikan untuk masuk ke sekolah yang dekat dengan rumah saja atau setidaknya tidak terlalu jauh dari rumah dengan alasan agar mudah ketika menengok dan memantau.
Berangkat dari keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi (maaf)lemah yang berpenghasilan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak menyurutkan tekad untuk tetap bersemangat agar dapat bersekolah dengan harapan agar kedepannya saya memiliki ilmu yang cukup dan bisa mandiri untuk mengurus diri sendiri. Pada akhirnya tiga tahun lamanya dilalui dengan berbagai perjuangan baik dari segi adaptasi maupun materi yang cukup sulit pada akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Bagi oranglain dengan keluarga yang memiliki kecukupan materi dalam biaya sekolah maka hal ini bukan hal yang besar untuk dibanggakan, tapi bagi saya dan keluarga mendapatkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dari menengah pertama itu adalah kebanggaan tersendiri.
Dalam perjalanan selama tiga tahun tersebut, ada beberapa bagian yang selalu menjadi kenangan termanis mengingat betapa sulitnya mendapatkan biaya yang cukup meskipun memang pasokan dari kampung selalu ada setiap bulannya. Akan tetapi dengan jumlah yang jika dihitung dan dipergunakan untuk biaya makan dan kebutuhan sekolah setiap harinya ternyata rata-rata hanya cukup untuk dua minggu saja. Maka jika melihat demikian maka dua minggu berikutnya adalah hal yang menjadi alasan yang paling kuat untuk memutar otak dan menyemangati diri agar mendapatkan penghasilan setidaknya untuk makan sehari-hari serta sekedar untuk mencukupi membeli diktat dan fotokopian materi dalam pembelajaran yang setiap minggunya selalu saja ada yang diwajibkan untuk dibayar.
Karena pada tahun pertama sudah merasa sangat malu untuk terlalu manja kepada orangtua meminta bekal agar dilebihkan. Pada akhirnya pada tahun kedua saya memberanikan diri untuk memanfaatkan kesempatan pekerjaan sampingan yang dapat dilakukan sebelum atau sepulang sekolah. Jika sekolah memiliki jadwal masuk pagi maka siang adalah waktu untuk bekerja begitupun sebaliknya. Itupun tidak setiap hari, hanya jika pekerjaan ada saja.
Dengan berbagai pertimbangan yang diperhitungkan matang-matang oleh orang yang saya minta agar mempekerjakan saya dalam pekerjaannya, jadilah saya bekerja dengan adaptasi yang sangat luar biasa.
Mungkin pembaca bertanya-tanya dimanakah tempat pekerjaan pertama saya itu?
Jika yang dibayangkan adalah pekerjaan yang ada di dalam ruangan dengan AC atau setidaknya pendingin udara yang menyegarkan, maka itu adalah salah besar. Karena pertama kalinya saya bekerja adalah di pekerjaan bangunan. Pekerjaan yang mengandalkan tenaga besar sedangkan badan saya sendiri tidak terlalu bertenaga besar. Akan tetapi saya bekerja semampunya dan mengatakan di waktu pertama bekerja bahwa bayarlah saya sesuai pekerjaan saya, biarlah tidak dibayar penuh asal saya mendapatkan uang untuk bekal.
Jadi itulah pekerjaan pertama saya, terkadang membawakan batu bata dari parkiran ke lantai dua. Terkadang memikul adukan semen dan pasir untuk para tukang tembok, terkadang pula mendorong gerobak mengangkut bahan material bangunan dari jalan besar ke gang-gang sempit tempat pekerjaan itu berada. Badan yang kecil ini dipaksakan untuk berpanas-panasan dan mengangkat beban yang berat dengan semangat yang mengalahkan itu semua.
Yang sering membuat saya tersenyum sendiri ketika mengingatnya adalah pada hari pertama bekerja saya mendapatkan upah, begitu senangnya hati ini meskipun jumlahnya tidak terlalu besar. Perasaan lelah di badan terbayarkan setelah mendapatkan rezeki yang mungkin menurut oranglain akan sangat kecil.
Telapak tangan ini berbeda dengan anak sekolah lain kebanyakan yang halus dan bersih. Kulit ini berbeda dengan anak sekolah lain kebanyakan yang tidak pecah dan gelap sisa terpanggang panasnya sinar matahari.
Banyak hal yang dapat dipetik dari proses belajar kemandirian selama bersekolah. Banyak hal yang dilakukan untuk mendapatkan sedikit rupiah agar dapat memenuhi kebutuhan hidup pada waktu itu. Selain sebagai buruh bangunan juga pernah beberapa waktu di bengkel kendaraan.
Dibalik itu semua, selalu ada hikmah yang bisa dipelajari dengan pengalaman yang dilalui. Menyadarkan sedikit besarnya mungkin beginilah perjuangan orangtua untuk menjamin kehidupan anak-anaknya agar mendapat pakaian dan pendidikan yang layak. Mengingatkan untuk selalu menghargai setiap rezeki yang didapatkan baik untuk menghargai oranglain yang menguras keringat bekerja untuk kita maupun tidak berfoya-foya ketika kita mendapatkan rezeki yang lebih.
Bersyukurlah saat ini saya bekerja sekaligus menyumbangkan tenaga dalam balutan pengabdian menyumbangkan sedikit kemampuan yang diperoleh untuk kebaikan sesama.
Tidak ada maksud untuk mengeksplorasi kedukaan. Tidak ada maksud untuk mempermalukan diri sendiri. Tidak ada maksud untuk mengelu iba dari orang lain yang membaca tulisan ini. Karena banyak yang berjuang lebih dari ini.
Hanya jika kebetulan ada pembaca yang sedang bergulat dan berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang memang layak diperjuangkan, bersemangatlah!. Karena kesempatan tidak untuk mereka yang malas memperjuangkan.
Share:

Anak dan Problematika Solusi atas Kebutuhan Khususnya

Tidak ada yang berbeda dengan kegiatan hari ini, masuk kelas dan memfasilitasi anak didik di tiga kelas berbeda dengan tingkatan yang sama. Kebetulan tahun ini hanya diberikan amanah untuk mengisi kelas tingkat 7 (tujuh) saja berdasarkan pertimbangan secara pribadi kepada atasan untuk membagi konsentrasi antara mengajar dan mengelola data administrasi pendidikan agar seimbang dengan alokasi waktu yang dimiliki. Itupun bukannya tidak beresiko pada jam kerja karena dengan memegang dua job yang berbeda membuat saya harus memiliki jam pulang yang berbeda atau setidaknya bekerja di malam hari agar tuntutan penyelesaian pekerjaan dapat terselesaikan.
Di salahsatu kelas hari ini, kegiatan pembelajaran berjalan lancar hingga pada akhirnya di tengah-tengah waktu pembelajaran secara tidak sengaja perhatian tertuju pada anak didik yang duduk di barisan kedua dari belakang. Si anak sepertinya terlalu asyik dengan dunianya sendiri sehingga lupa dengan sekelilingnya. Di saat teman-temannya mengerjakan tugas speakingyang diberikan dengan melafalkan beberapa kata dan kalimat di buku pegangan masing-masing, anak ini melakukan kegiatan berbeda dengan hanya mencoreti buku catatannya, sepertinya dia menggambar sesuatu.
Dengan berusaha untuk tidak menarik perhatiannya saya coba untuk mendekatinya memutar dari arah samping menyusuri deretan meja di sisi lain. Pada akhirnya setelah saya mendekat sekalipun dia masih terlalu sibuk dengan aktifitas menggambarnya. Penasaran dengan apa yang digambarnya saya memperhatikan dari belakang, ternyata anak tersebut menggambar sekelompok orang dengan posisi sedang berolahraga. Saya menduga bahwa dia memiliki ketertarikan yang lebih banyak di bidang olahraga dibandingkan dengan bidang lainnya.
Setelah saya beberapa menit berdiri di belakangnya, anak tersebut rupanya menyadari bahwa saya memperhatikan karena beberapa temannya tertawa kecil sambil menunjuk perlahan seolah memberitahukan kepadanya bahwa saya ada di belakang. Anak ini memiliki karakter pemalu dalam kesehariannya dan cenderung banyak diam ketika dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Berbeda dengan ketika masuk ke pelajaran olahraga maka dia termasuk salahsatu yang paling aktif. Jika dalam penilaian aspek pengetahuan dan keterampilan untuk mata pelajaran yang banyak belajar di ruang kelas nilainya standar bahkan cenderung minim, berbeda dengan hasil penilaian yang mengandalkan aspek motorik maka dia termasuk di atas rata-rata.
Akan tetapi ada satu hal yang paling memprihatinkan yaitu ternyata anak ini memiliki kesusahan dalam hal kemampuan membaca. Mungkin dalam istilah lain termasuk dalam anak yang mengalami disleksia.Entah apa yang menjadi penyebab apakah pola asuh dan didik di rumah oleh orangtua, pola pendidikan di sekolah atau memang akibat dari faktor gen dan keturunan (dalam beberapa referensi literasi hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti). Jika dibandingkan dengan anak lainnya (normal) maka kemampuan membacanya hanya setara dengan kemampuan membaca anak usia 9-10 tahun atau tingkat 3-4 sekolah dasar (dengan perbandingan anak yang bersekolah di daerah pedesaan yang tidak mengenal sekolah TK), hal ini banyak menimbulkan pertanyaan lain yang jika diungkapkan kemungkinan akan mengalami perbedaan persepsi dan ketersinggungan pihak terkait.
Untuk hal seperti ini solusi berkelanjutan dibutuhkan karena rumitnya permasalahan ini jika terus dibiarkan. Akan tetapi dengan sumber daya yang terbatas dan fasilitas yang belum memadai maka masalah anak-anak yang memiliki "kelebihan" seperti ini hanya akan terabaikan dan terlupakan. Misalnya kebutuhan pelayanan khusus oleh petugas khusus atau kebutuhan konseling dan penjaringan anak berkebutuhan khusus baik yang termasuk kategori ringan, sedang atau pun berat.
Karena dengan hanya mengandalkan solusi jangka pendek akan kesulitan untuk memantau perkembangan anak tersebut. Misalnya memang semenjak diketahui bahwa anak tersebut memiliki kesusahan dalam membaca maka saya mengambil solusi dengan memberikan bimbingan khusus pada setiap jam pelajaran yang saya miliki di kelas tersebut dengan memberikan tugas membaca bacaan ringan yang kontennya disukai olehnya. Akan tetapi mungkin solusi seperti ini akan sulit diketahui hasilnya dan kurang efektif karena posisi saya yang hanya seminggu dua kali masuk kelas dengan alokasi waktu yang sedikit dibandingkan dengan hasil yang diharapkan.
Semoga ke depannya akan ada perhatian, solusi yang nyata dan dukungan dari pihak terkait yang bertanggungjawab atas kemajuan dunia pendidikan. Disamping memang ini adalah kewajiban orangtua dan lingkungan untuk mengantarkan anak-anaknya siap untuk menghadapi masa depan yang tidak semudah yang difikirkan. Karena disamping kelebihan motorik yang dimiliki, harus disadari bahwa penguasaan terhadap aspek pengetahuan dan keterampilan wajib dimiliki oleh setiap orang.
Share:

My Pic





Share:

Menadah Semangat Kerja Dari Rintik Hujan



Menadah Semangat Kerja Dari Rintik Hujan
Menadah Semangat Kerja Dari Rintik Hujan
Sumber : Arsip Pribadi
Bagi sebagian besar orang yang memiliki rutinitas sehari-hari dengan kegiatan terjadwal, berangkat pagi dan pulang sore adalah kebiasaan yang menjadi keharusan. Terlepas dari tuntutan kewajiban itu adakalanya untuk berangkat lebih pagi adalah hal yang sangat berat mengingat rutinitas seperti ini dihampiri oleh rasa jenuh akan pekerjaan yang begitu besar. Hal ini sulit dibantah oleh setiap orang namun bukan berarti tidak dapat diminimalisir atau dihilangkan. Untuk sebagian orang mungkin sudah ada yang memiliki trik dan jurus tertentu untuk mengakali agar semangat  dengan mudah tumbuh lebih besar ketimbang rasa malas yang dipupuk oleh perasaan bosan dan jenuh.
Share:

“Program Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Kerajinan Daur Ulang” #Part1


Sejumlah Blogger Cianjur #bloggercianjur yang kece-kece dan 30 peserta dari berbagai kalangan terlihat begitu antusias mengikuti acara yang berlangsung pada hari Sabtu, 18 Nopember 2017 yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut. Sebenarnya sih awalnya agak canggung bercampur kaget ketika pertama melangkahkan kaki melewati pintu masuk. Itu karena sebagian besar peserta adalah teteh-teteh dan ibu-ibu (nenek-nenek kebetulan ga ada yang menjadi peserta, hehehe.... ) hanya ada beberapa peserta laki-laki saja dan itu pun dapat dihitung jari. Maklumlah mungkin karena kegiatan ini diprioritaskan untuk kaum ibu sehubungan dengan beberapa ilmu keterampilan yang akan disampaikan. Padahal kalo bapak-bapak pada tau juga ilmu yang akan didapatkan, beuuuuh pasti bejibun mereka minta didaftarkan jadi peserta. Secara atuh kan Bapak-Bapak tidak akan mau kalah sama istrinya. Betul ga bapak-bapak? Hehe. 
Share:

Tentang Saya



Hai...
Salam hangat, saya adalah seorang ayah dari 1 putri cantik dan suami bagi bidadari istana kecil kami.
Merupakan Blogger, Buzzer dan Influencer dari Cianjur, Jawa Barat yang senantiasa menulis tentang lifestyle, parenting, petualangan/travelling dan juga pendidikan.
Jika tertarik untuk bekerjasama, silahkan kontak saya:
E-mail : sgtagustina26@gmail.com
Twitter : git_agusti 
Facebook :  Git Agusti 
Instagram : git_agusti 
Share:

Tentang Saya

Git Agusti

Hai | Saya adalah Seorang Ayah dari 1 Putri Cantik | Blogger Cianjur | Buzzer | Lifestyle Blogger | Parenting Care | Random Writer | ...Read More

Ikuti Saya Melalui Email

Label

Jalan-Jalan (16) Stories (16) opini (14) Teknologi (13) edukasi (12) Report (2)

Artikel Terbaru

A Member of

A Member of

Komentar Terbaru

Find Me:

  • Facebook : Git Agusti.
  • Twitter : @git_agusti.
  • Instagram : git_agusti.

Kata Mutiara Hari Ini :

"Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu"

Git Agusti | Lifestyle Blogger